FORUM MAHASISWA-MAHASISWI LAMPUNG YOGYAKARTA
Would you like to react to this message? Create an account in a few clicks or log in to continue.



 
PortalIndeksPencarianLatest imagesGalleryPendaftaranLogin

 

 PANGERAN EDWARD DAN JOGJA ( saliwanovanadiputra.blogspot.com )

Go down 
PengirimMessage
Novan Saliwa
Rating
Rating
Novan Saliwa


Rate : 19
Posts : 6
Reputation : 0
Join Date : 26.03.11

PANGERAN EDWARD DAN JOGJA ( saliwanovanadiputra.blogspot.com ) Empty
PostSubyek: PANGERAN EDWARD DAN JOGJA ( saliwanovanadiputra.blogspot.com )   PANGERAN EDWARD DAN JOGJA ( saliwanovanadiputra.blogspot.com ) Clock11Wed Mar 30, 2011 11:52 pm

Jogja, itu punya kenangan besar, membangun watak dan kejuangan. Menempuh pendidikan sekaligus menempa pergaulan lintas budaya di tengah masyarakat yang majemuk. Itu hebatnya Jogja,” kata Pangeran Edward.[/center]
Ketika SMA, Pangeran Edward sakit dan memeriksakan diri ke Rumah Sakit Tentara Tanjung Karang. Di rumah sakit itu ia diperiksa seorang dokter muda, Mayor Onggo namanya. Pangeran Edward tetarik melihat dokter itu, masih muda sudah menjadi perwira gagah dan sehat. Melihat itu tergeraklah hati Pangeran Edward untuk menjadi tentara, di samping itu darah pejuang cukup kental mengalir di tubuh Pangeran.

Setamat SMA, Pangeran Edward mengikuti tes di UGM. Dan kemudian diterima di Fakultas Hukum UGM. Di Yogya inilah Pangeran Edward mulai mengetahui kalau ingin menjadi perwira tentara harus ditempuh melalui pendidikan di AKABRI. Namun, ia sudah terlanjur kuliah di UGM. Apa yang sudah terjadi tetap dijalani, meski dalam hati masih ingin menjadi tentara, cita-cita yang tetap menyala-nyala. Maka tak heran bila pilihannya untuk aktif di dunia kemahasiswaan jatuh pada Resimen Mahasiswa, Men Mahakarta Batalyon I UGM. Di resimen ini ia mulai mencicipi latihan dasar kemiliteran.
Kegiatan latihan militer, search and rescue, terjun payung, dan mendaki gunung menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu karena membawa kegembiraan baginya. Bahkan instruktur latihan pun amat dikenalinya. Ia masih ingat, komandan pusat latihan militer di Klaten waktu itu dipimpin Letkol Inf Tuswandi. “Mungkin karena anak tentara, jadi cita-cita untuk jadi tentara sangat kuat. Mungkin karena punya darah petarung, maka punya nyali buat berkelahi,” katanya bergurau.
Selama menjadi mahasiswa di Jogja, Pangeran Edward tinggal di daerah Baciro. Waktunya tidak hanya dihabiskan di kelas perkuliahan, tapi juga banyak bergaul dengan masyarakat setempat dan orang-orang yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Guna mendukung cita-citanya menjadi tentara dan meneruskan hobi sejak kecil, Pangeran Edward terus belajar silat di Jogja. Awalnya ia belajar beladiri moderen, Kempo. Tetapi karena sering berkelahi di luaran, perguruan Kempo tempatnya berlatih menskors-nya. Menurut kesaksian kawan kuliahnya, Pangeran Edward berlatih bela diri bukan hanya di tempat latihan, tetapi juga di kost. Setiap pagi dan malam, Pangeran Edward menempa kemampuan bela dirinya.

Suatu masa dimana sepak terjang gali (gabungan anak liar)–preman, sedang marak di Jogja. Kala itu, di kalangan anak muda Jogja sedang tren “meguru” cari katosan. Pangeran Edward pun iseng-iseng belajar olah kanuragan dan kesaktian kepada mBah Joyo di lereng Gunung Sumbing Temanggung. Sejumlah laku dalam tradisi Jawa, seperti puasa dan bertapa dikaji, bahkan rapal-rapal khas Jawa pun pernah didengar dari mBah Joyo dan murid-muridnya. Pangeran Edward menjelajah dunia ini sebagai luapan rasa ingin tahunya yang besar terhadap khazanah budaya lokal, khazanah budaya Jawa. “Ah, itu kan iseng, ingin nyoba, main-main aja sama yang begitu-begitu. Benar-benar bisa sakti atau tidak? Jangan-jangan hanya trik. Saya kan menjauhi yang syirik. Apa kata mBah Joyo? mBah Joyo bilang, itu ada laku wengi sejati kalau puasa sehari semalam, kalau nglakoni dua hari dua malam, namanya kerik waja, anti tusuk, kalau 7 hari tujuh malam itu sang windu kencana, kalau empat puluh hari namanya wali sejati, tidak mempan senjata. Semula saya hanya ingin melihat, diantar sama Kang Suwar, dulu tukang reparasi jam di Tejokusuman. Saya penasaran saja melihat Mas Cukit di dekat Toko Bunga Taman Garuda, tidak mempan ditusuk senjata tajam. Kata Kakek, yang begitu-begitu itu bidah dan syirik. Semula saya hanya melihat-lihat bagaimana orang-orang itu menempa rasa percaya dirinya.”
Itulah sebabnya, semasa di Jogja, Pangeran Edward dikenal luas di kalangan gali, bahkan beberapa kali terlibat dalam konflik fisik dengan beberapa kelompok di antara mereka. “Entah karena apa, semua tidak berkembang jadi tawuran massal, berakhir dengan semacam ‘kesepakatan damai’ khas anak-anak geng. Ada saling pengertian. Biasalah, darah muda,” kata Pangeran Edward sambil tertawa dan menyelipi cerita suatu peristiwa tegang yang membuat seorang gali terkencing-kencing.
Ia juga berkesempatan menyelisik lorong-lorong sisi keras kehidupan para gali. “Kalau berurusan dengan mereka itu karena saya harus membela kawan yang teraniaya dan tertekan, didzalimi, diperas. Yang begitu-begitu perlu dibela, di antaranya lewat perlawanan.”

Spoiler:

Di Jogja itu pula Pangeran Edward mempunyai ayah angkat orang Sulawesi, Pak Bakri mantan pemberontak yang punya ilmu juga. Bersama Letkol Tui dari Mandar, Pangeran Edward banyak berdiskusi mengenai olah kanuragan itu. Ketika remaja itu pula ia terinspirasi film laga yang dibintangi Bruce Lee. Dalam salah satu dialognya, guru Bruce Lee bilang, “ ... binalah dirimu untuk menghadapi hal-hal mendadak.” Kata-kata itu memberinya dorongan untuk selalu memiliki kesemaptaan fisik yang prima. Sehat jasmani.
Upaya menjaga kebugaran tubuh memang telah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Ia selalu ingat pesan kakeknya, “ ... siagakan selalu dirimu dalam keadaan sehat fisik dan mental, sehingga sewaktu-waktu diperlukan kamu dalam keadaan siap. Kata Kakek, bersiaplah sebelum dibutuhkan.”
Ternyata bukan hobi silat saja yang diteruskan Pangeran Edward ketika di Yogya, hobi membaca komik pun terus berjalan. Komik karya Ganesh TH, Wid NS, Hasmi, Asmaraman Kho Ping Ho, dan buku-buku fiksi sewaan lain habis dilalapnya. Bahkan, ia sangat terkenal sebagai “kutu buku” di kamar kosnya. Selesai ujian semester, setumpuk buku disewa. Hari-harinya habis untuk “tekun membaca” (komik dan silat).
“Sampai-sampai, motor suka dibawa pinjam sama kawan seharian. Waktu dia pagi ambil motor, saya sudah baca, sore dia kembaliin motor saya masih baca. Lama-lama, motor jadi dilanggan pinjam. Mereka tahu diri juga sih, sering saya dibawain nasi Padang supaya tidak lupa makan siang, atau mereka bisa dititipi untuk kembalikan buku ke persewaan dan nyewa yang lain lagi, waktu itu sewa buku kan masih murah,” kata Pangeran Edward mengenang.

SUMBER ( sultanskalabrak23.blogspot.com )
Kembali Ke Atas Go down
http://saliwanovanadiputra.blogspot.com
 
PANGERAN EDWARD DAN JOGJA ( saliwanovanadiputra.blogspot.com )
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FORUM MAHASISWA-MAHASISWI LAMPUNG YOGYAKARTA :: UMUM (Sapa Aja Boleh) :: CULTURE-
Navigasi: